Islam Tak Mengenal Pemisahan Ilmu Agama dengan Ilmu Umum

Mantan Menteri Agama RI, Suryadharma Ali mengharapkan masyarakat dapat menghilangkan dikotomi (pemisahan) antara ilmu umum dan agama yang diperkirakan memberikan pengaruh kurang baik dalam peningkatan kualitas umat Islam. Ada kesan, mempelajari ilmu agama itu berpahala, sedangkan mempelajari ilmu umum tidak berpahala," ujarnya.

Menurutnya, dikotomi ilmu agama dan umum itu harus diakhiri, sehingga kesan ilmu pengetahuan dalam Islam hanya berupa ilmu fikih, tafsir dan tasawuf saja dapat dihilangkan.

Meski upaya untuk menguasai ilmu agama sangat ditekankan dan penting, tetapi umat Islam tidak boleh meninggalkan ilmu umum yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. “Ilmu umum sangat dibutuhkan untuk mengungkap dan mempelajari berbagai kekuasaan Allah SWT yang tidak tersurat dalam Al-Quran,” kata Suryadharma.

Contohnya, kata dia, Al-Quran menyebutkan bahwa langit dan bumi milik Allah SWT, tetapi tidak merinci isi dan kandungan bumi yang dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dengan ilmu pengetahuan umum, akhirnya diketahui bahwa Allah SWT menyiapkan berbagai unsur dalam bumi yang dapat diolah untuk kebutuhan manusia.

Menurut Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Aceh, Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim MA: Salah satu penyebab kemunduran peradaban umat, khususnya umat Islam adalah adanya pemisahan (dikotomi) antara ilmu agama dengan ilmu umum, padahal jika dikaji secara historis dari sejarah peradaban Islam, ilmuwan-ilmuwan muslim zaman dulu  di samping ahli pada bidang ilmu pengetahuan umum, juga ahli ilmu agama.

“Ajaran Islam tidak pernah melakukan dikotomi antar ilmu satu dengan yang lain. Karena dalam pandangan Islam, ilmu agama dan umum sama saja berasal dari Allah. Islam juga menganjurkan umatnya bersungguh-sungguh mempelajari setiap ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan Al-Quran merupakan sumber dan rujukan utama, ajaran-Nya memuat semua inti ilmu pengetahuan, baik yang menyangkut ilmu umum maupun ilmu agama,” ujar Prof. Farid Wajdi.

Menurutnya, pemisah kedua ilmu tersebut awalnya hanya sekedar spesifikasi, agar terjadi penggalian ilmu secara mendalam yang profesional dan mampu mengaktualisasikan untuk kemajuan peradaban, hanya saja belakangan telah terjadi  stigma (anggapan) yang sangat jauh, sehingga timbul kesan ilmu agama hanya mengarah pada pembentukan spiritual saja dan tidak menganggap menyentuh pergaulan sosial sehingga menjadi pemicu kemunduran peradaban Islam.

Sebaliknya dengan pemahaman yang berbeda di tengah masyarakat kita yang sudah terlena dan terlarut pada pandangan skeptis dimana ilmu dunia banyak mengiring kepada sikap liberalisasi umat, mendekati umat pada kesesatan bahkan dipandangnya ilmu itu hanya sebatas di dunia yang dapat menyesatkan dan menjauhkan diri dari hukum-hukum Islam.

“Karenanya agar tidak terlena dengan berlarutnya kedua pandangan tersebut maka perlu menjadi perhatian serius supaya tidak menimbulkan stigma negatif bagi kelangsungan hidup dan kemajuan peradaban umat. Sehingga hubungan antara sains dengan agama perlu, karena ilmu pengetahuan tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu pengetahuan pincang,” jelasnya.

Al-Quran adalah sumber integrasi ilmu pengetahuan. Islam adalah agama yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan Al-Quran adalah modal utama berbagai ilmu keislaman.

‎90 persen ayat Al-Quran bersifat Zhanni, sementara 10 persen lagi bersifat Qath’i. Nah, kata Farid, dalam wilayah 90 persen inilah kita mesti melakukan berbagai upaya menafsirkan Al-Quran sesuai perkembangan ilmu pengetahuan.

Dengan Al-Quran ini, Islam mendorong kita mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapi.

“Semua cabang ilmu pengetahuan bisa menyatu dengan Islam karena Islam sangat lengkap. Semua ada dalam Al-Quran. Hanya Islamlah agama yang paling lengkap dan universal. Tidak ada agama lain seperti agama Islam. Islam mengatur persoalan ilmu pengetahuan, ekonomi dan berbagai persoalan lainnya.

Ia menambahkan, atas dasar pemahaman seperti itu, dalam sejarah Islam lahirlah para ilmuwan Islam yang sangat hebat, seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Ibnu Majah, Ibnu Rusd, Ar-Razi, Ibnu Tufail dimana mereka mengkaji ilmu pengetahuan yang sudah ada sejak zaman sebelumnya. “Tokoh-tokoh muslim ini mampu mengislamkan ilmu pengetahuan, “ ungkapnya. 

Firman Allah SWT:

"Seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah" (QS. Luqman:27).

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan" (QS. Al-Qashash: 77).

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"(QS. Al-Mujadalah:11).

Sabda Rasulullah SAW:

"Sebaik-baiknya manusia adalah yang banyak manfaatnya bagi yang lainnya. (HR. Bukhari)"

Imam Asy-Syafi'i Berkata:

"Barangsiapa yang ingin sukses di dunia maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang ingin sukses di akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang ingin sukses pada keduanya (dunia dan akhirat) maka hendaklah dengan ilmu".

"Bila kau tak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kau harus sanggup menahan perihnya kebodohan". 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Islam Tak Mengenal Pemisahan Ilmu Agama dengan Ilmu Umum"

Posting Komentar