• Pondok Pesantren Al-Fatah didirikan oleh KH. Aceng Royani (Alm.) sejak tahun 1960 M / 1379 H
Zaman telah berubah, Santri tak cukup hanya bisa Ngaji tapi juga perlu diimbangi dengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Keterampilan yang Mumpuni..

Tips Memilih Sekolah dari MUI

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau Prof DR H Mahdini mengimbau para orang tua agar selektif dalam memilih sekolah untuk anak-anaknya, bagi yang beragama Islam, sebaiknya memilih sekolah yang juga bernuansa Islam pula.

Sekarang ini, banyak tawaran sekolah-sekolah global yang mungkin secara kredibilitas berada di atas rata-rata. Namun jangan dilupakan pula, pendidikan agama dan akhlak anak tersebut.

Belajar Agama, Kewajiban yang Acapkali Terabaikan

Sebagian orang tua sangat senang jika anaknya bisa belajar sampai jenjang lebih tinggi. Tapi sedikit yang peduli akan pendidikan agama pada anak. Jika anak tidak bisa baca Al Qur’an tidaklah masalah, yang penting bisa menguasai bahasa asing terutama bahasa Inggris. Jika anak tidak paham agama tidak apa-apa, yang penting anak bisa komputer. Jadilah anak-anak muda saat ini jauh dari Islam, tidak bisa baca Qur’an, ujung-ujungnya gemar maksiat ditambah dengan pergaulan bebas yang tidak karuan dipenuhi dengan narkoba, miras, dll.

Anak Dibiarkan Merokok, Akan Tumbuh Generasi Muda yang Bodoh dan Tertinggal

Pada rokok, nikotin adalah unsur utama penyebab kecanduan. Nikotin banyak terkandung di tembakau sehingga baik rokok putih, rokok kretek, atau e-cigarette, selama mengandung tembakau akan menimbulkan adiksi. Efek kecanduan ini pun nyatanya juga memengaruhi tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus bangsa.

Penelitian JAMA Psychiatry mengungkapkan bahwa asap rokok membuat dapat membuat anak menjadi agresif, emosional, dan cenderung membangkang. Bahkan, sifat tersebut muncul ketika anak sudah terpapar asap rokok sejak kecil. Selain itu, anak-anak yang merokok kemampuan belajarnya terhambat.

70 Persen Perokok Aktif adalah Orang Miskin

Universitas Airlangga Surabaya mencatat 70 persen perokok aktif adalah orang miskin, karena itu rancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang pengendalian produk tembakau perlu segera disahkan untuk melindungi mereka.

"RPP itu penting karena 70 perokok aktif adalah orang miskin dan 71 persen keluarga di Indonesia memiliki pengeluaran untuk rokok," kata Koordinator Teknis Sentra Advokasi Lingkungan Bebas Rokok (SALBR) FKM Unair Surabaya Dr dr Imam S Mochny MPH di Surabaya, Rabu (30/5).